Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja

Final, partai puncak turnamen akbar Piala Dunia adalah partai yang paling berat. Hanya tim yang pantas yang berhak memainkannya.

Final tentu lebih berat daripada semifinal.

Jika di semifinal saja, menghadapi lawan yang katanya tenaganya sudah banyak terkuras, lalu unggul telebih dahulu di menit-menit awal, tapi akhirnya kalah lewat extra time, berarti tim itu tak memang belum pantas masuk final. Tim itu belum siap untuk berlaga di final sebuah turnamen besar sekelas Piala Dunia.

Mereka sejatinya merupakan tim bagus yang dihuni anak-anak muda penuh semangat. Namun lawannya membuktikan diri lebih unggul, baik fisik maupun mental.

Meminjam kutipan salah satu film yang sempat booming di Indonesia: Inggris jangan ke final, berat. Kalian takkan kuat, biar Kroasia saja.

Musnahnya Sebuah Mimpi

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat

Mimpi Inggris untuk lolos ke final Piala Dunia pertamanya setelah setengah abad lebih akhirnya musnah. Setelah peluit panjang, hanya kekecewaan dan penyesalan yang tersisa.

Setelah sekian lama, publik Inggris kembali percaya bahwa tim nasional mereka mampu meraih prestasi terbaik di turnamen paling akbar. Pasukan muda yang dibentuk oleh Gareth Southgate sanggup memicu optimisme para pendukung Tiga Singa.

Setelah ‘memilih’ jalur mudah dengan finis peringkat dua Grup G di bawah Belgia, Inggris melaju hingga empat besar. Kolombia dikalahkah lewat adu penalti, yang merupakan kemenangan adu penalti mereka di turnamen besar. Setelah itu, meski sang mesin gol Harry Kane dimatikan, Inggris tetap bisa mengalahkan Swedia 2-0 lewat gol-gol Harry Maguire dan Dele Alli di perempat final.

Inggris pun lolos ke semifinal Piala Dunia pertamanya sejak 1990. Hanya Kroasia yang menghalangi Inggris dengan final pertamanya sejak 1966 – ketika mereka meraih gelar juara dunia pertama dan satu-satunya hingga sekarang.

Kroasia adalah lawan yang berat. Luka Modric dan kawan-kawan menjuarai grup neraka yang dihuni Argentina, Nigeria dan Islandia. Argentina dengan Lionel Messi-nya saja mereka hajar gol tanpa balas.

Kroasia lalu menunjukkan mental bajanya dengan dua kemenangan beruntun lewat adu penalti melawan Denmark di babak 16 besar dan tuan rumah Rusia di perempat final.

Kroasia adalah lawan yang kuat, tapi Inggris optimistis mampu mengatasi mereka. Salah satu alasannya adalah faktor kebugaran. Setelah memainkan dua pertandingan beruntun selama 120 menit plus adu penalti, tenaga Kroasia seharusnya sudah terkuras.

Inggris mungkin sedikit meremehkan Kroasia, dan itu adalah sebuah kesalahan besar.

Di Luzhniki Stadium, Kamis (12/7), Inggris mengawali laga dengan sempurna. Belum genap lima menit sejak kick-off, tendangan bebas Kieran Trippier sukses menaklukkan Danijel Subasic dan membawa Inggris unggul 1-0. Para pendukung Inggris makin percaya kalau merekalah yang akan melawan Prancis di final.

Unggul cepat, Inggris semakin bersemangat. Inggris bermain bagus dan menciptakan beberapa peluang emas di babak pertama, tapi skor 1-0 tak berubah hingga jeda. Di babak kedua, alur permainan mulai berubah.

Dimotori para gelandangnya, terutama Ivan Rakitic dan Modric di ruang kendali permainan, Kroasia mulai menekan balik Inggris. High press yang mereka lancarkan membuat Inggris kesulitan mengembangkan permainan. Pada titik ini, Inggris jadi lebih sering melakukan clearance asal-asalan setiap kali diserang oleh Kroasia.

Ivan Perisic, yang tak kenal lelah mengiris di sektor kiri serangan Kroasia, merupakan salah satu pemain terbaik di laga ini. Dia jugalah yang mencetak gol penyama kedudukan di menit 68 ketika menyambar crossing manis Sime Vrsaljko dari sisi kanan.

Gol balasan itu membuat motivasi anak-anak asuh Zlatko Dalic meningkat. Bagi Inggris, sebaliknya. Setelah equaliser itu, pertahanan Inggris jadi terlihat lebih rapuh daripada di laga-laga sebelumnya.

Jika tembakan rendah Perisic tak menerpa mistar, dan Ante Rebic lebih cermat dalam memanfaatkan bola muntahnya, Kroasia bisa saja mengakhiri perlawanan Inggris di waktu normal.

Inggris cukup sukses meredam pengaruh Perisic dan Modric di tengah, tapi mereka gagal mematikan kedua sayap Kroasia – Perisic dan Rebic.

Kroasia butuh adu penalti untuk melewati hadangan Denmark dan Rusia. Kali ini, itu tidak diperlukan. Menit ke-109 extra time, Perisic memenangi sebuah duel udara di sisi kiri dan menyundul bola ke jantung pertahanan Inggris. Untuk sesaat, konsentrasi John Stones buyar dan itu berakibat fatal. Pasalnya, ada Mario Mandzukic di sana.

Insting pembunuh Mandzukic bekerja dengan baik. Striker Juventus itu memburu bola lebih cepat daripada dua bek Inggris yang berada di dekatnya, lalu menuntaskan peluang emas tersebut dengan sepakan kaki kiri tanpa bisa dicegah oleh kiper Jordan Pickford.

Euforia melanda kubu Kroasia. Saat itu, Inggris tahu kalau itu adalah akhir dari mimpi mereka untuk lolos ke final.

Harusnya Tak Meremehkan Kroasia

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat

Setelah laga, kapten Luka Modric mengatakan bahwa para jurnalis dan pundit Inggris kurang menaruh respek pada pemain-pemain Kroasia. Menurutnya, diremehkan seperti itu membuat para pemain Kroasia sangat termotivasi untuk menang.

“Orang-orang bicara ini dan itu…. Para jurnalis Inggris dan pundit dari televisi,” papar Modric kepada ITV.

“Mereka meremehkan Kroasia malam ini, dan itu adalah sebuah kesalahan besar. Kami membaca dan mendengar kata-kata mereka, dan kami berucap: ‘Baiklah, hari ini mari lihat siapa yang lelah’.”

“Mereka harusnya lebih rendah hati dan lebih respek pada lawan.”

“Kami sudah menunjukkan kalau kami tidak lelah. Kami mendominasi pertandingan ini, baik di segi fisik maupun mental.”

“Kami bahkan bisa saja mengakhiri laga sebelum extra time. Ini pencapaian yang luar biasa bagi kami. Setelah sekian lama, mimpi ini jadi kenyataan. Kami ke final dan ini merupakan prestasi terbesar dalam sejarah Kroasia. Kami harus bangga.”

Kroasia lolos ke final Piala Dunia pertamanya. Ini sudah melampaui prestasi terbaik para pahlawan Kroasia di Piala Dunia 1998, ketika finis peringkat tiga dalam penampilan pertamanya sebagai negara merdeka.

Kroasia akan kembali ke Luzhniki Stadium untuk menghadapi Prancis dalam laga pemungkas perebutan gelar juara dunia. Sementara itu, Inggris menyusul Belgia.

Dua wakil Grup G ini menempuh jalur berbeda untuk sampai ke semifinal, dan bertemu kembali dalam partai perebutan tempat ketiga.

Kroasia Lebih Pantas

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat

Kroasia bermain lebih baik, dan pemain mereka (Ivan Perisic) terpilih sebagai Man of the Match. Kroasia memang lebih pantas menang dan masuk final.

Kroasia mendominasi laga, tak terlihat seperti sebuah tim yang katanya kelelahan.

Kroasia unggul penguasaan bola mencapai 54%. Jumlah tembakannya pun dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Inggris (22 – 11). Inggris tidak kalah telak, tapi hampir saja. Jika Pickford tak melakukan lima penyelamatan, margin golnya mungkin sudah lebih lebar.

Lelah? Siapa yang lelah?

“Apa yang dilakukan para pemain kami hari ini, kekuatan, stamina dan level energi yang telah mereka tunjukkan…. Saya ingin melakukan pergantian, tapi tak ada yang mau diganti. Semua terus berkata ‘saya siap, saya masih bisa berlari’,” ujar sang pelatih Zlatko Dalic.

“Beberapa ada yang bermain dengan cedera minor, yang kalau di laga lain mereka mungkin takkan turun lapangan. Dua pemain bahkan bisa dibilang bermain hanya dengan satu kaki, tapi mereka tak memperlihatkannya!”

“Tak ada satupun yang ingin mengalah saat saya mempersiapkan susunan pemain. Tak ada yang berkata tidak siap saat extra time. Tak ada yang mau digantikan.”

“Itu menunjukkan karakter tim ini, dan itu membuat saya bangga. Tak ada yang mau menyerah.”

Tim seperti itulah yang baru saja mengalahkan Inggris. Mereka telah membuktikan bahwa mereka lebih siap, baik fisik maupun mental, daripada Inggris. Mereka lebih pantas untuk menjadi lawan Prancis di partai puncak nanti.

Inggris jangan ke final, berat. Kalian takkan kuat, biar Kroasia saja.

Kunjungi juga KLIK66 situs judi qq online terbesar dan terpercaya di indonesia yang menyediakan 8 jenis permainan di antaranya aduq , bandarq, BANDAR POKER , bandar66 Dan Lain - lain. DAFTAR SEKARANG Bonus Promo Menarik menanti anda.

-> BONUS TURN OVER 0.5%
-> BONUS REFERRAL 20%

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat

Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat   Inggris Jangan ke Final, Berat, Kalian Takkan Kuat, Biar Kroasia Saja takkan saja kuat kroasia ke kalian jangan inggris final biar berat